The Bystander Effect: Mengapa Orang Baik Membekukan dan Cara Mengatasinya

12

Adegan ini sudah tidak asing lagi: seseorang terjatuh di jalan yang ramai, seorang rekan kerja diintimidasi saat rapat, atau komentar menyakitkan menyebar secara online. Kita sering ragu, padahal kita tahu kita bisa membantu. Keraguan ini bukanlah sikap apatis; ini adalah fenomena psikologis yang terdokumentasi dengan baik yang disebut efek pengamat. Memahami mengapa hal ini terjadi adalah langkah pertama untuk melepaskan diri dari kelambanan bertindak dan menjadi penolong yang aktif.

Psikologi di Balik Kelambanan

Efek pengamat pertama kali dipelajari pada tahun 1960an setelah kasus tragis Kitty Genovese, di mana para saksi dilaporkan gagal melakukan intervensi selama serangan. Peneliti John Darley dan Bibb Latané menemukan bahwa orang kecil kemungkinannya untuk membantu ketika ada orang lain. Ini bukan karena manusia kejam; Hal ini disebabkan oleh interaksi yang kompleks antara isyarat sosial, ketidakpastian, dan ketakutan.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ceritanya lebih bernuansa. Meskipun beberapa penelitian mengkonfirmasi dampaknya, analisis keadaan darurat di dunia nyata pada tahun 2019 menemukan bahwa sembilan dari sepuluh kali, setidaknya satu orang di sekitar melakukan intervensi. Faktor kuncinya bukan hanya berapa banyak orang di sekitar, namun seberapa serius mereka memandang situasi tersebut.

Mengapa Kami Membekukan: Mekanisme Inti

Keraguan ini tidak terjadi secara acak; beberapa kekuatan psikologis berperan:

  • Pembagian Tanggung Jawab: Di tengah keramaian, rasa akuntabilitas pribadi berkurang. Semua orang berasumsi orang lain akan mengambil alih. Penelitian menunjukkan bahwa 85% orang akan membantu ketika sendirian, namun hanya 31% yang akan membantu dalam kelompok.
  • Ketidaktahuan Pluralistik: Kita mencari petunjuk dari orang lain. Jika tidak ada yang khawatir, kami menganggap situasinya tidak darurat. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan tidak adanya tindakan kolektif.
  • Ambiguitas dan Ketidakpastian: Keadaan darurat tidak selalu jelas. Kebingungan tentang apa yang terjadi atau bantuan apa yang dibutuhkan bisa melumpuhkan kita.
  • Takut akan Penghakiman: Mengambil tindakan bisa terasa berisiko. Kita khawatir akan mengatakan hal yang salah, memperburuk situasi, atau diejek.
  • Kelebihan Emosional: Menyaksikan tekanan dapat menyebabkan ketakutan, rasa bersalah, atau keterkejutan, sehingga membebani kemampuan kita untuk berpikir jernih.

Efek Bystander dalam Kehidupan Sehari-hari

Dampaknya tidak hanya terbatas pada keadaan darurat yang dramatis. Tampaknya secara halus:

  • Ruang publik: Seseorang pingsan di trotoar, dan orang-orang di sekitar menonton sampai orang lain bertindak.
  • Sekolah: Siswa diejek sementara teman sekelasnya diam.
  • Tempat Kerja: Rekan kerja mengabaikan komentar kasar, saling melirik tetapi tetap diam.
  • Online: Postingan yang menyakitkan tersebar di obrolan grup, dan hanya sedikit yang melakukan intervensi.
  • Adegan halus: Orang asing tampak tersesat, dan orang-orang menganggapnya “bukan masalah mereka”.

Momen kecil ini penting. Membantu mungkin berarti sekadar memeriksa, menetapkan batasan, atau mengakui ketidaknyamanan seseorang.

5 Cara Penuh Perhatian untuk Mengambil Tindakan

Untuk menghilangkan efek pengamat memerlukan kesadaran dan tindakan yang disengaja. Berikut lima strateginya:

  1. Sebutkan Apa yang Terjadi: Kenali situasinya alih-alih mengabaikannya. Mengatakan pada diri sendiri, “Orang itu kelihatannya tidak nyaman” menghentikan dorongan otomatis untuk memalingkan muka.
  2. Asumsikan Bantuan Dibutuhkan: Jika Anda berada di posisi mereka, apakah Anda ingin seseorang melapor? Jika ya, bertindaklah. Anda tidak harus memperbaiki semuanya; pengakuan sudah cukup.
  3. Ambil Tanggung Jawab Pribadi: Hancurkan pola menunggu orang lain. Gunakan bahasa yang lugas: “Saya meminta bantuan,” atau “Bisakah seseorang mendapatkan keamanan?”
  4. Pilih Tindakan Aman: Intervensi tidak selalu berarti konfrontasi. Gunakan “4 D”: D berbicara secara langsung, D mengalihkan perhatian untuk menciptakan ruang, D tegaskan kepada orang lain, atau D tunda dan lapor masuk nanti.
  5. Renungkan Dengan Belas Kasih: Setelah melakukan intervensi, akui perasaan Anda tanpa menghakimi. Apakah Anda bertindak efektif? Apa yang dapat Anda lakukan secara berbeda di lain waktu?

Kesimpulan

Efek pengamat adalah respons mendalam manusia terhadap situasi sosial. Ini bukan tentang sikap apatis; ini tentang kekuatan psikologis yang membuat kita ragu. Dengan memahami kekuatan-kekuatan ini dan mempraktikkan tindakan yang penuh perhatian, kita dapat beralih dari mengamati menjadi membantu, mengubah kelambanan menjadi intervensi positif.

попередня статтяAI Mempercepat Pertarungan Melawan Superbug: Model Baru Menjanjikan Penemuan Obat Lebih Cepat
наступна статтяAir Kelapa: Hype Hidrasi vs. Realitas Pencernaan