Akibat Interaksi: Mengapa Kami Memutar Ulang Pertemuan Sosial

Banyak orang mendapati diri mereka menganalisis kembali percakapan dan situasi sosial lama setelah percakapan tersebut berakhir – meneliti apa yang dikatakan, bagaimana hal itu diterima, dan apakah percakapan tersebut sesuai dengan yang diharapkan. Kebiasaan ini tersebar luas, sering kali dipicu oleh pertemuan yang canggung atau penuh emosi.

Fenomena ini, yang dikenal sebagai pemrosesan pasca kejadian, kini semakin dikenal, baik dalam konteks klinis maupun dalam kesadaran budaya yang lebih luas. Ini belum tentu merupakan tanda penyakit tetapi bisa menjadi masalah jika tidak ditangani.

Peningkatan refleksi diri mungkin berasal dari faktor-faktor seperti isolasi sosial akibat pandemi COVID-19 atau prevalensi “terapi bicara” online, yang telah meningkatkan kesadaran diri kita – dan terkadang, kesadaran diri kita. Apa pun penyebabnya, orang-orang memperhatikan betapa banyak energi mental yang dicurahkan untuk memeriksa kembali interaksi di masa lalu.

Apa itu Pemrosesan Pasca Acara?

Pemrosesan pasca-peristiwa, yang secara resmi didefinisikan pada tahun 1995 oleh psikolog David Clark dan Adrian Wells, mengacu pada perenungan yang terus-menerus, terperinci, dan seringkali negatif setelah pertemuan sosial. Intinya, ini adalah kritik diri setelah bersosialisasi. Kita memutar ulang percakapan, membedah perilaku kita, dan mencoba menebak (seringkali secara tidak akurat) apa yang dipikirkan orang lain.

Awalnya dikaitkan dengan kecemasan sosial, kini hal ini dipahami sebagai kecenderungan umum manusia. Kebanyakan orang melakukannya pada tingkat tertentu, terutama setelah situasi yang memalukan atau berisiko tinggi. Misalnya, setelah presentasi pekerjaan dengan umpan balik yang terbatas, mengulang momen untuk menilai kinerja adalah hal yang wajar. Atau, setelah pesta, terobsesi dengan kesalahan sosial kecil – “Apakah saya menyela Mary? Apakah saya dianggap kasar?” — adalah hal biasa.

Pemeriksaan postmortem yang dilakukan sesekali dapat bersifat konstruktif; dengan memutar ulang momen, kita dapat belajar tentang diri kita sendiri. Mengenali pola-pola seperti kegugupan yang menyebabkan ucapan tanpa filter memungkinkan koreksi diri di masa depan.

Kapan Ini Menjadi Masalah?

Batas antara refleksi diri yang sehat dan pemikiran berlebihan yang berbahaya terlampaui ketika proses pasca-peristiwa menjadi sering terjadi, tidak terkendali, atau berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari. Jika hal ini mendominasi suasana hati, harga diri, atau kemauan untuk bersosialisasi, hal ini mungkin mengindikasikan masalah yang lebih dalam.

Hal ini terutama berlaku bagi mereka yang menderita gangguan kecemasan sosial, di mana ketakutan yang terus-menerus terhadap situasi sosial memicu kritik diri yang tiada henti. Orang dengan gangguan ini cenderung mengulangi interaksi dengan bias negatif, tidak yakin apakah interaksi tersebut diterima atau divalidasi. Namun, keraguan diri sesekali tidak berarti suatu gangguan. Kecemasan sosial membutuhkan rasa takut yang berkelanjutan sebelum, selama, dan setelah interaksi sosial setidaknya selama enam bulan.

Bahkan tanpa adanya kecemasan sosial yang besar, proses pasca-acara yang sering dilakukan tidak boleh diabaikan. Penelitian menunjukkan bahwa hal ini dapat berkontribusi terhadap berkembangnya kecemasan di kemudian hari, dan dapat menjadi gejala dari pemikiran berulang yang lebih umum, seperti perenungan, yang berhubungan dengan depresi dan kecemasan umum.

Mengambil Kendali: Cara Mengelola Terlalu Banyak Berpikir

Jika pemrosesan pasca-acara terjadi sesekali, rasa kasihan pada diri sendiri sudah cukup. Sadarilah bahwa hal ini umum dan sering kali mencerminkan pikiran Anda yang mencoba memahami sesuatu yang tidak nyaman.

Ketika hal ini menjadi sering terjadi atau menyusahkan, “membiarkannya terjadi” saja dapat memperkuat keyakinan negatif. Sebaliknya, berhati-hatilah dengan dampaknya: terkurasnya energi, perubahan suasana hati, dan berkurangnya kenikmatan hubungan sosial.

Keterampilan seperti perhatian, belas kasihan pada diri sendiri, gangguan yang disengaja, dan penyusunan ulang kognitif dapat membantu menghentikan putaran pemikiran ini. Sama pentingnya, terus terlibat dalam situasi sosial. Penghindaran mungkin memberikan bantuan jangka pendek, namun memperburuk kecemasan seiring berjalannya waktu.

Jika pemrosesan pasca-acara mengganggu kesejahteraan, bantuan profesional dapat memberikan strategi yang dipersonalisasi. Anda tidak harus menyelesaikannya sendirian.

Pemrosesan pasca kejadian adalah hal biasa dan seringkali tidak berbahaya. Namun, jika hal ini terus berlanjut dan bahkan mengaburkan pengalaman positif, hal ini menandakan adanya perubahan pola pikir yang harus diatasi sejak dini untuk mengurangi tekanan dan mencegah kecemasan yang lebih dalam atau siklus berpikir yang berulang.

Exit mobile version